Tas
Sore itu ibu-ibu komplek tempat tinggal Nina datang ke rumahnya, hari ini jadwal arisan jatuh ke tangan Nina, syukurlah hari ini Ahad jadi Nina punya waktu bersiap mulai Sabtu kemarin.
Namanya ibu-ibu suka kepo kan, apalagi Nina memang suka memajang barang-barang yang dibelinya, diantara barang-barang favorit Nina terdapat 1 lemari kaca yang berisi tas dengan berbagai model, warna dan brand, mulai dari yang mahal sampai yang murah, mulai dari yang besar sampai yang kecil imut.
Ibu-ibu terpana melihat koleksi Nina, Bu Sugeng salah satu diantara ibu-ibu nyeletuk, "MasyaAllah Nina, banyak benar koleksi tas mu."
"Ah, Ibu bisa aja, ini sih belum seberapa, Saya cuma punya 25 ini, Itu tuh Bu Lisa, malah ada 1 kamar lagi untuk tasnya saja."
"Bener Lisa ? Tanya bu Sugeng pada bu Lisa, bu Lisa hanya tersenyum, sambil menjawab, "Aah, Bu Sugeng bisa aja, namanya kita punya, ya it's okay lah ya, shopping-shopping cantik, bela-beli tas macam-macam, yang penting kan tidak merugikan orang lain, ya kan Bu Nina?
Nina hanya tersenyum saja. Diantara ibu-ibu yang cantik-cantik dan mentereng, ada seorang ibu yang tampil sederhana, Nina mengenalnya sebagai Dinda, rumah dinda hanya berjarak 2 rumah dari rumah Nina, Dinda selalu tampil sederhana dan bersahaja, tas yang dipakai pun hanya yang itu-itu saja. Kalau ibu-ibu yang lain selalu mengikuti tren mode terkini, baju terkini, tas model terbaru, sepatu yang berganti-ganti, maka Dinda tidak terlalu mementingkan hal tersebut. Bahkan saat arisan seperti saat ini, dimana ibu-ibu bergaya full habis, Dinda tampak tenang-tenang saja dengan gayanya. Padahal kalau dipikir-pikir Dinda adalah istri seorang direktur salah satu perusahaan swasta terkenal.
Sambil berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang lain, bu Sugeng sebagai senior di komplek tersebut mengingatkan, "Hati-hati lho Nina, Lisa, kita ini kan muslimah ya, jadi semua-semua itu akan dihisab pada akhirnya, semakin banyak yang harus dihisab ya semakin lamalah kita masuk syurganya, itupun kalau kita masuk syurga, he he he."
"Ah, masak sih bu", kata Nina, kita kan belanjanya masih sesuai kebutuhan, beli tas juga kan sesuai kebutuhan", kata Nina lagi. "Masak sih kebutuhan tas bisa 1 lemari, eh, malah ada yang 1 kamar , he he he, iyakan lisa?"
Bu Lisa hanya tersenyum sambil menjawab, "Ya gak papa toh Bu , kan mampu ."
Nina berada disuatu tempat yang asing baginya, banyak manusia yang berbaris rapi menunggu giliran, Nina bertanya dalam hati, "Tempat apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?. Lalu Nina melihat ke depan, dia melihat Dinda yang bisa langsung masuk ke gerbang tertutup yang sepertinya bercahaya, "Apa Dinda masuk syurga ? Apa itu gerbang syurga? Apa aku sudah mati? Nina berpikir terus hingga tiba gilirannya untuk dimintai pertanggungjawaban, "Oh, Ya Allah, apa ini yang disebut hisab seperti kata bu Sugengkah? " Nina menangis mengingat banyaknya tas yang dimilikinya, berapa lama waktu hisab baginya, sementara 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia dan hari di akhirat ini baru di mulai. Nina teringat Dinda yang bisa dengan cepat masuk syurga, tidak lama proses hisabnya.
"Nina, Nina, bangun Nina, ada apa ? Mengapa menangis?" Suami Nina berusaha membangunkan Nina yang ternyata menangis dalam tidur.
Nina terbangun dan langsung bersyukur ternyata dia hanya mimpi, "Alhamdulillah, kata Nina dalam hati, ternyata Allah masih beri aku waktu."
"Ada apa Nin?" Tanya suaminya, "Tidak apa-apa Bang, tadi Nina mimpi Tas Nina yang banyak itu dihisab."
"Alhamdulillah hanya mimpi", kata suaminya tersenyum.
Keesokan harinya Nina melakukan sortir pada tasnya, memilih beberapa yang sangat diperlukan, lalu menyumbangkan tas-tas lainnya untuk amal.
Note: Cerita ini merupakan fiksi dan khayalan Penulis semata, jika ada kejadian yang sama hanya hal tersebut hanyalah kebetulan semata.

Comments
Post a Comment