Belajar Online Bagian 2
Hambatan Belajar Online
Ada banyak hal yang menjadi masalah ketika belajar online atau BDR (Belajar dari Rumah), antara lain :
Versi siswa/i :
1. Tidak punya smart phone, untuk SMK di daerah seperti kami, kebanyakan anak-anak yang masuk SMK program keahlian Agribisnis Pertanian itu, anak-anak golongan menengah ke bawah, jadi tudak semua punya smartphone, smartphone termasuk barang mewah.
2. Tidak punya kuota,selain sering tidak punya kuota internet, anak-anak seringnya hanya beli kuota ketengan seperti cuma pinya paket untuk wa saja, sehingga kalaupun kita sebagai guru mau mengirim video dari Youtube, arau mau zoommeeting atau googlemeet atau webex atau menggunakan googleclassroom jadi tidak memungkinkan, pada akhirnya hanya bisa menggunakan wa. Saya beberapa kali menggunakan aplikasi untuk belajar tatap muka online, akhirnya pada beberapa kelas hanya ada 3 siwa yang berpartisipasi dari 11 siswa, kelas 1 nya lagi juga 3 orang siswa dari 20 siswa, bi3. sa dikatankan tidak berhasil .
3. Bekerja, karena dianggap tidak sekolah, maka anak-anak mdnggunakan waktunya untuk bekerja, baik bekerja di rumah membantu orang tua maupun bekerja serabutan sebagai bhl (buruh harian lepas) di kebun-kebun rakyat, atau di doorsmer (tempat pencucian mobil dan motor) atau di tempat lainnya. Menurit mereka di rumah saja tidak produktif, lebih baik bekerja apa saja yang menghasilkan uang, good point, hanya saja sekolah jadi tidak penting bagi mereka.
4. Kurangnya pemahaman orang tua, sebagian orangtua kelihatannya kurang oaham bahwa sekolah dari rumah, ya tetap sekolah, sebagian dari mereka menganggap anak-anak mereka libur sehingga memberi pekerjaan atau tugas rumah tangga bahkan.pada saat anak-anak jamnya sedang Daring atau Belajar.
5. Kesulitan memahami pelajaran. Sebagian mengalami kendala belajar online karena materi yang siberikan kebanyakan harua dibaca dan dioahami sendiri. Guru hanya membimbing dari jauh.
6. Praktek tidak memungkinkan bagi SMK. SMK punya konsep 70% praktek dan 30% teori, pada saat seperti ini praktek tidak memungkinkan, kecuali ada beberapa materi yang bisa dipraktekkan sendiri di rumah, yang kira-kira bahan dan alatnya ada di rumah siswa. kebanyakan hanya bisa dipraktekkan di sekolah.
7. Home visit (Kunjungan ke rumah). Mengingat rumah para siswa yang sebagian besar jauh maka home visit sulit dilakukan. Pada saat sekolah normal anak-anak ini kos dekat sekolah, sehingga saat BDR seperti ini mereka kembali tinggal di rumah dan tidak kos. Rumah yang sangat jauh menyulitkan untuk dilakukan home visit.
Sekarang ini di Aceh ada program Konsultasi Belajar yang dilakukan di mesjid-mesjid atau musholla- musholla yang ada di dekat rumah masing-masing siswa, pembimbingnya bisa para mahasiswa yang tinggal di dekat daerah tersebut atau bahkan guru-guru yang datang ke mesjid atau musholla sesuai waktu yang disepakati.
Ini hanya pemikiran Saya dari hasil pengamatan, diskusi dengan siswa/i dan teman- teman guru yang lainnya mengenai pembelajaran Daring ini, semoga Pandemi ini segera berakhir dan anak- anak dapat lagi belajar dengan optimal dan normal seperti biasa.
Karang Baru 23 Oktober 2020

Comments
Post a Comment