Totto-chan Gadis Cilik di Jendela (Ulasan Buku)


Judul buku :Totto-chan Gadis Cilik di Jendela 
Pengarang :  Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005

Sebenarnya buku ini sudah lama saya baca, dibaca ulang untuk mengingat kembali seperti apa sebenarnya isinya.

Totto-chan adalah sebuah buku tentang kisah masa kecil sang pengarang dan kepala sekolah Tomoe Gakuen Sosaku Kabayashi. Sang pengarang dalam hal ini Tetsuko Kuronayagi berusaha menjelaskan bagaimana metode pendidikan Mr. Kobayashi yang berbeda, Dia yakin setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang akan mudah rusak dengan pengaruh lingkungan atau pengaruh buruk orang dewasa.

Totto-chan, seorang gadis kecil istimewa, yang berbeda dengan teman-temannya disekolah dalam menyikapi segala hal. Di awal cerita digambarkan situasi saat Totto-chan dan mama pergi menuju sekolah yang baru dengan menggunakan kereta api, kejadian di awal masih memperlihatkan tingkah laku gadis cilik yang lucu dengan celetukan-celetukannya kepada petugas kereta api.

Pada bagian selanjutnya barulah diceritakan alasan mengapa mama harus mengantarkan Totto-chan ke sekolah baru, pada bagian ini diceritakan bagaimana ibu guru di sekolah sebelumnya, merasa jengkel dan kesal akibat tingkah laku Totto-chan yang tidak biasa, sehingga menyarankan kepada mama untuk memindahkan saja Totto-chan ke sekolah lain. Akhirnya setelah mencari tahu kesana kemari, mama berhasil menemukan sekolah baru yang sesuai untuk Totto-chan. Sekolah baru Totto-chan merupakan sekolah yang unik, sekolah yang bisa dibilang ramah anak dengan segala macam gaya belajarnya, sehingga anak-anak dapat belajar sesuai  keinginannya, dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan.

Kepala sekolah juga digambarkan sangat ramah dan mengerti bahasa anak-anak, membuat mereka belajar dari hal kecil sekali pun, seperti saat waktu makan siang, ia bertanya pada anak-anak apakah mereka membawa sesuatu dari laut dan dari pegunungan, Totto-chan merasa sangat senang sekali, menurutnya sekolah ini sama sekali berbeda. Mama pun merasa lega karena Totto-chan diterima di sekolah yang baru Tomoe Gakuen, dan senang belajar disana.

Saya senang sekali membaca buku ini, Pengarang memaparkan bahwa sebenarnya setiap anak berbeda dan punya cara belajar berbeda. Di bagian awal ibu guru menjelaskan bagaimana Totto-chan membuat kelas kacau balau karena rasa ingin tahu nya dan semangatnya akan hal-hal baru, juga saat Totto-chan hanya melihat keluar jendela tanpa mengikuti pelajaran dan memanggil penyanyi jalanan. Saya juga merasa lega saat membaca buku ini, putri ke dua saya saat TK dan di awal masuk SD juga punya masalah belajar, membaca dan berhitung, menggambar, berkreasi tidak jadi masalah, masalah akan muncul saat kewajiban menulis, anak saya tidak suka menulis, seperti Totto-chan dalam buku ini, saat pelajaran menulis putri saya akan hanya memandang keluar jendela berkhayal atau menggambar saja. Alhamdulillah di kelas dua SD, wali kelasnya lebih paham hal ini dan lebih sabar, dengan kerjasama yang baik antara kami (orang tua dan guru), ada banyak perubahan yang terjadi. Setelah membaca buku ini saya bersyukur bahwa hal tersebut adalah normal saja, setiap anak berbeda, dengan cara belajar yang berbeda dan itu baik-baik saja.

Buku ini sangat saya rekomendasikan dibaca oleh para praktisi pendidikan, guru dan orang tua, sehingga bisa lebih paham dan mengerti anak-anak seperti mama yang sabar dan mengerti Totto-chan serta kepala sekolah dan sekolah Tomoe Gakuen yang ramah anak dan tidak konvensional.




Comments

  1. Aku kenal buku ini waktu kuliah, pinjam punya teman. Pikirku imut banget ini si Toto Chan, menggemaskan. Giliran anak2ku bertingkah seperti Toto Chan, MasyaAllah... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. He33, iya waktu baca buku ini, kita rasanya bisa mengerti pikiran Toto_chan, giliran anak sendiri, haduuuh ^^

      Delete
  2. Baru lihat sampulnya aja sudah cutie, cutie gmn gitu .. 😎😂

    ReplyDelete
  3. Setuju kl setiap anak berbeda dalam cara belajar,cara menyampaikan sesuatu, dll. Anak sy belajar sambil nonton & dengerin musik. Wkwkkwkw. Kl sy belajar, kl sepi harus sepi bgth. Makanya suka belajar pas subuh.kl mau rame, harus rame bgth. Aneh ya. Hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah mbak, cuma mkn gurunya kan gak sempat ya ngurusin anak2 yang berbeda model belajarnya, makanya malah terabaikan ^^

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment